Photography And You

image
Credit: http://discoversouthken.com

Aku dan fotografi tidak dapat dipisahkan. Aku sangat mencintai dunia fotografi. Karena kecintaanku pada fotografi itu, aku memutuskan untuk magang sebagai fotografer di kantor sebuah majalah fotografi lokal yang berpusat di Jakarta, dan memiliki satu cabang di kotaku, Medan. Majalah ini menitikberatkan foto-foto hasil liputan mereka pada kemanusiaan. Kantorku juga sering mengadakan bakti sosial, donor darah dan program kemanusiaan lainnya, tapi aku jarang ikut. I couldn’t care less. I’m a selfish one, to be honest. Aku bekerja di sini hanya karena aku suka fotografi serta photography scholarship di luar negeri yang mereka tawarkan jika aku berprestasi di sini.

Sudah seminggu ini aku tidak ke kantor karena banyak tugas kuliah, tadi malam aku tidur hingga larut karena nenyelesaikan deadline dokumentasi foto yang harus kuserahkan ke Pak Hamdi, bosku, pagi ini. Setengah mengantuk aku memasuki kantor, sampai seseorang menabrakku dan hampir saja aku menjatuhkan kameraku.

“Are you blind?!” bentakku. Kulihat sesosok cowok tinggi berwajah western, juga memegang kamera. Ganteng sih, but who cares!
“Sorry, saya tidak sengaja.” Ujarnya sopan. Oh, bisa Bahasa Indonesia.
“Kamu tahu nggak, kamu hampir aja ngejatuhin kamera saya, hati-hati dong kalau…” aku tidak menyelesaikan kalimatku karena Mbak Tami, rekan kerja seniorku tiba-tiba menarikku lenganku.
“Aduh Maaf, Pak. She doesn’t know you, she’s doing internship here. Anak baru.” Mbak Tami tersenyum kepada cowok itu yang membalas dengan anggukan maklum.
“Oh Galvin, we apologize for your inconvenience.” Pak Hamdi juga ikut meminta maaf.
“All is cool, Sir.” Jawab cowok itu sok kalem. Mereka lalu ke ruangan pak Hamdi.
Aku bengong. Siapa sih dia, sampai Pak Hamdi juga segitu hormatnya sama dia.
“Aduh Nindya, kamu tuh. Dia itu fotografer profesional dari London yang mau kerjasama sama kita. Dia baru datang kemaren, kamu pas nggak datang, jadi kamu nggak tahu.” Jelas Mbak Tami kemudian.
“Iya, sorry deh, Mbak.” Ujarku lalu duduk di meja kerjaku, tidak jadi ke ruangan Pak Hamdi, karena yeah Pak Hamdi masih ada tamu si Galvin tadi. Mana aku tahu dia fotografer profesional, penampilannya terlalu urakan menurutku. But well, kebanyakan fotografer memang lebih memilih penampilan yang santai ketimbang formal.

Dari Mbak Tami aku tahu ternyata cowok itu, Galvin Williams, adalah warga Skotlandia yang kemudian berdomisili di London. Dia lajang berumur 20-an. Menurut Mbak Tami, orang-orang lama di kantor ini sudah mengenal Galvin, karena ini bukan pertama kalinya bekerja sama dengan majalah kami. Kadang-kadang dia ke Indonesia cuma untuk liburan, pokoknya dia sudah sangat mengenal Indonesia dan lumayan lancar berbahasa Indonesia. Mbak Tami juga cerita kalo cowok itu berjiwa sosial tinggi, suka keliling dunia untuk menemui anak-anak miskin dan bla bla bla, I don’t even care.

Karena terlalu lama menunggu dan Pak Hamdi masih asyik mengobrol sama makhluk bule tadi, aku menitipkan hasil kerjaku ke Mbak Tami untuk diserahkan ke Pak Hamdi. Aku harus ke kampus karena ada kuliah.

Beberapa hari berikutnya aku tidak ke kantor karena kembali disibukkan dengan kuliah dan tugas. Jumat sore lagi aku baru ke kantor dan cuma sebentar untuk menyerahkan beberapa foto-foto hasil liputanku. Aku tidak melihat Galvin. Aku mau langsung pulang namun urung, langit Medan sore ini sangat bersahabat, aku berniat ke taman di samping kantor.

“You’re Nindya Nasution, right?” sebuah suara mengagetkanku ketika aku sedang asyik melihat beberapa hasil jepretanku di taman itu
Si Cowok Bule.
“Yes. Well, I apologize for what I did a few days ago.”  Aku meminta maaf.
“It’s okay. Oh ya, aku sudah lihat profil kamu, impressive. And I’ve seen your portfolios as well, they are brilliant. You’re very talented. Kamu akan punya karir yang bagus di dunia fotografi.” Pujinya.
“Thanks.” Sahutku tersenyum.
“So would you tell me more about your interest in photography?” tanyanya.

Aku menceritakan kepadanya ketertarikanku pada fotografi bermula dari kecintaanku pada gadget dan travelling. Lalu kami terlarut dalam obrolan ringan, walaupun pertemuan kami tidak terlalu panjang karena aku harus pulang. But I feel so excited.. And it’s weird. Why do I feel so comfortable to talk to him?

Tiga hari berikutnya aku ke kantor lagi. Minggu ini aku tidak terlalu banyak tugas kuliah, jadi aku bisa agak lebih sering ke kantor dan keluar mencari objek foto dan menyelesaikan liputanku dengan sedikit santai tanpa harus terburu-buru dikejar deadline. Aku sibuk menatap laptop di meja kerjaku, saat Galvin masuk ruangan kantor. Aku heran kenapa dia masih ada di Medan, tapi aku teringat waktu pertemuan kami di taman kantor kemarin dia bilang dia akan berada di Medan selama 2 minggu karena dia ingin berlibur sekalian meng-explore keindahan Sumatera Utara.

Setelah keluar dari ruangan pak Hamdi, Galvin mendekati mejaku. Aku sedikit terkejut. Dia menanyakan apakah aku akan berada di kantor sampai sore. Aku bilang aku sudah mau pergi mencari liputan foto. Dia malah mengajakku hunting foto bareng. Aku tidak menolak, karena aku kebetulan memang ingin belajar banyak fotografi dari dia. Saat aku memasukkan laptop dan kameraku ke ransel untuk kemudian mengikuti Galvin keluar, seisi kantor yang sedari tadi sudah memperhatikan kami makin terlihat heran, sejak kapan aku dekat dengan Galvin.

Karena aku memang belum tau mau hunting foto ke mana, Galvin mengusulkan mengajakku ke suatu tempat yang dia suka, yang sudah sering didatanginya selama beberapa kali kunjungannya ke kota Medan. Aku setuju, penasaran tempat seperti apa yang dikunjungi fotografer profesional bertaraf internasional itu untuk hunting foto. Aku kecewa ketika dia justru membawaku ke sebuah perkampungan kumuh di pinggiran rel kereta api. So, is it your taste, Mr. Professional? Aku mendengus dalam hati.

“You don’t look excited, why?” tanyanya melihat raut mukaku.
“Are you sure this is ‘that place’?” Well, aku tahu mungkin benar banyak objek yang berhubungan dengan kemanusiaan di tempat ini. Perumuhan kumuh dan penduduknya. Tapi tetap saja aku tidak suka tempat ini. Panas! Kotor!
“Of course!” Jawabnya sambil mulai mengambil beberapa gambar dengan kameranya. Ingin rasanya aku tinggalkan saja dia di sini, tapi aku harus sedikit menghormatinya.
“Dan aku sekalian ingin menemui teman-temanku di sini.” Ucapnya yang membuat keningku berkerut.

Dia kemudian mengajakku menemui segerombolan anak-anak. Ternyata yang dia bilang teman-temannya adalah anak-anak jalanan ini. Aku menghela nafas sebal. Dia kemudian memberi uang kepada salah satu anak itu untuk membeli makanan untuk makan siang. Mereka kemudian makan nasi-nasi bungkus itu bersama. Galvin menawariku tapi aku menolak. Aku bilang aku masih kenyang, padahal aku lapar sekali. Mana bisa aku makan di tempat seperti ini. Galvin sendiri terlihat makan dengan lahap sambil bercengkrama dengan anak-anak itu. Sepertinya Galvin sudah sangat dikenal di sini, terlihat dari para orang tua anak-anak itu yang juga terlihat akrab dengannya. Beberapa dari anak anak itu mendekatiku dan berlagak sok akrab. Aku memasang tampang jutekku. Aku benci anak-anak! Galvin hanya tertawa melihatku.

Aku heran kenapa Galvin bisa begitu menyatu dengan mereka. Untuk apa dia peduli terhadap anak-anak ini? Ah, aku ingat kata Mbak Tami, kalau Galvin itu orang yang berjiwa sosial tinggi. Galvin kemudian bermain dan bernyanyi bersama anak-anak itu. Galvin mengajakku ikut bergabung. Awalnya aku enggan, tapi dia terus mengajakku dan akhirnya aku menurut. Dan aneh sekali kemudian aku malah menikmati keceriaan bersama mereka. Berbaur dengan canda tawa mereka. Bersama anak-anak itu, dan bersama Galvin…

Sejak hari itu aku jadi semakin dekat dengan Galvin. Kami sering bertemu di kantor dan kemudian hunting foto bersama. Tentu saja kami masih menjadi pusat perhatian di kantorku. Kami juga sering ke tempat anak-anak jalanan itu. Sekarang aku malah mulai menyukai kebersamaan dengan mereka. Mulai mengenal mereka, kehidupan mereka, mulai menyadari bahwa seharusnya aku peduli dengan mereka. Ternyata banyak hal-hal yang tidak kuketahui, tepatnya karena aku tidak mau tau, selama ini. Selama ini aku terlalu buta untuk peduli terhadap orang-orang membutuhkan di sekelilingku. Aku merasa malu kepada diriku sendiri. Galvin saja yang orang luar bisa begitu peduli dengan nasib anak-anak miskin di kotaku ini, kenapa aku tidak?

Semakin aku mengenal Galvin, semakin aku mengagumi dirinya. Dia telah mengajari ku banyak hal. Dan kekagumanku hanya menyiksaku karena aku harus berpisah dengannya. Galvin sudah kembali ke London kemarin. Sedih, tapi aku harus melepas kepergiannya.

Setelah kepergian Galvin, hingga saat ini aku masih sering ke tempat anak-anak jalanan itu.  Tuhan telah menyadarkanku indahnya berbagi lewat mereka. Aku belajar menjadi orang yang lebih peduli terhadap sesama. Aku jadi lebih sering ikut kegiatan bakti sosial dan donor darah. Aku dibantu teman-teman kuliah dan kantorku juga membuat perpustakaan kecil di beberapa daerah di kota Medan, mengajar baca-tulis pada mereka yang tidak beruntung untuk mengecap bangku sekolah, dan terkadang aku juga mengajarkan fotografi pada mereka. He inspires me, aku tersenyum saat aku teringat akan Galvin. Thanks for the memories, lovely Scot…

Cerpen ini pernah saya ikutsertakan dalam kompetisi cerpen di sebuah situs online yang penilaiannya berdasarkan like terbanyak. Dan saya tidak termasuk dalam salah satu pemenang. Artinya saya perlu lebih banyak belajar lagi agar bisa meningkatkan kemampuan menulis saya. Well, cerpen ini telah saya edit judulnya dan beberapa bagian dari cerita aslinya sebelum saya posting di sini.

Advertisements

Surat Untuk Ayah

Surat Untuk Ayah

image

Aku masih berumur empat tahun saat ayah pergi untuk selamanya, meninggalkan aku dan bunda. Saat itu aku menangis, tapi aku menangis karena kukira ayah sakit, dan aku merasa marah karena ayah hanya diam saja saat kuajak bicara, tidak menanggapi saat kuajak bermain. Lalu kulihat banyak orang berdatangan, keluargaku, tetangga-tetanggaku, dan entah siapa lagi. Aku melihat bunda menangis, begitupun semua orang yang datang. Ayah dibaringkan di tengah ruangan, dan orang-orang membaca surat Yasin. Bunda kemudian mengatakan padaku bahwa ayah telah meninggal.
“Ayah sudah meninggal, Nak. Ayah sudah dipanggil oleh Allah.” ucap bunda terisak sambil membelai rambutku.
Aku hanya diam saja. Aku belum sepenuhnya mengerti. Aku tahu bahwa seseorang yang meninggal itu adalah orang yang sudah pergi meninggalkan kita. Tetapi aku belum paham benar bentuk kepergian itu. Sampai jasad ayah dimasukkan ke liang lahat dan orang-orang menimbunnya dengan tanah, baru aku menangis sejadi-jadinya. Dan saat itu kulihat bunda tak sadarkan diri.
Sepeninggal ayah, bunda jatuh sakit. Tetapi kemudian bunda berusaha tegar demi aku. Beliau mencoba menjalani hidupnya kembali walaupun terasa berat. Mencoba menjalani peran barunya sebagai single-parent.
“Bunda, apa kita bisa bertemu dengan ayah lagi?” Tanyaku suatu hari.
“Bisa, Nak. Makanya Khanza rajin shalat, mengaji dan belajar ya, Nak. Berdoa buat ayah. Insya Allah, nanti kita dipertemukan dengan ayah lagi di syurga.” Bunda dengan sabar menjelaskan padaku.
Tetapi hari-hari berikutnya aku semakin merindukan ayah. Hari demi hari bunda dengan sabar membujukku, menyemangatiku untuk terus rajin shalat, mengaji, dan belajar. Saat itu aku sudah akan memasuki Sekolah Dasar, aku sudah lancar membaca dan menulis.
Aku menangis sesenggukan saat ulang tahunku yang kelima. Biasanya, ayah selalu menyiapkan kue ulang tahun kesukaanku, membelikan boneka cantik dan menyanyi untukku. Tapi di hari itu, ayah tidak ada. Kue ulang tahun sudah disiapkan bunda. Pun dengan pesta bertemakan Snow White yang semarak yang dihadiri oleh sanak saudara dan teman-temanku yang membawa banyak kado. Tapi, aku tetap tidak bisa tersenyum, karena aku sangat merindukan ayah. Bunda, yang seperti malaikat, selalu membujukku dengan sabar, tak pernah marah padaku.
Setelah semua tamu pulang, aku memeluk bunda.
“Bunda, Khanza sudah shalat, mengaji, dan belajar. Tapi Khanza sangat rindu ayah. Khanza ingin bertemu ayah.” Aku menangis.
Bunda menghapus air mataku dan menatapku tersenyum.
“Ini kan ulang tahun Khanza, Khanza tulis surat ya buat ayah ya.” Ucap bunda.
“Surat?” Keningku berkerut.
“Iya. Tulis semua yang ingin Khanza bilang ke ayah. Khanza tulis kalau Khanza merindukan ayah, ingin bermain bersama ayah lagi, dan berjanjilah pada ayah bahwa Khanza akan selalu jadi anak yang baik, bahwa Khanza akan mencapai semua cita-cita Khanza. Khanza tulis suratnya di setiap ulang tahun Khanza.” Jelas Bunda sambil membelai rambutku. Aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Tapi ingat ya, janji-janji yang Khanza tulis di surat harus Khanza tepati.” Bunda menjawil hidungku.
“Tapi, Bunda, bagaimana ayah bisa membacanya?” Tanyaku penasaran.
“Allah yang akan menyampaikannya, Sayang.” Bunda tersenyum. Mataku berbinar, lalu memeluk bunda. Aku sangat menyayanginya.
Malamnya aku menulis surat. Aku menyobek selembar kertas dari salah satu buku tulisku yang berwarna-warni bergambar Snow White, karakter kartun kesukaanku. Aku menulis semua kerinduanku pada ayah. Bercerita tentang bunda hingga tentang teman-temanku di sekolah. Dan tak lupa, seperti yang bunda katakan, aku menulis janji-janjiku untuk setahun ke depan. Aku berjanji aku akan selalu rajin shalat dan mengaji. Akan selalu tekun belajar agar nilaiku selalu baik. Dan aku akan menuruti nasehat bunda, dan tidak melawan perkataanya. Aku kemudian memasukkan suratku ke dalam amplop kecil yang dibelikan bunda. Dan aku memasukkan surat itu ke dalam laci meja belajarku. Malamnya aku tidur dengan nyenyak, dan aku bermimpi bertemu dengan ayah. Ayah, bunda, dan aku bermain bersama di taman bunga yang sangat indah.
Sejak saat itu, setiap tahun tepat di hari ulang tahunku, aku selalu menulis surat untuk ayah. Tentang kerinduanku, bercerita tentang pengalaman-pengalamanku, hari-hari yang kulewati bersama bunda ataupun teman-temanku. Juga tentang janji-janji dan rencana-rencanaku di tahun lalu, yang mana yang yang berjalan baik, yang mana yang masih harus kuperbaiki. Dan tidak lupa, seperti biasa, aku menuliskan janji-janji dan rencana-rencanaku untuk tahun berikutnya.
Ya. Aku tahu bahwa surat itu tidak akan mungkin dibaca ayah. Dan seperti yang Bunda bilang, bahwa Allah yang akan menyampaikannya, aku tidak terlalu paham akan hal itu. Tapi satu hal yang pasti, aku dapat mengobati kerinduanku kepada ayah dengan menulis surat-surat itu.
Dan saat ini aku sudah duduk di kelas 1 SMP, aku tidak merasa perlu menulis surat-surat itu lagi. Aku pikir aku sudah cukup besar untuk mengerti bahwa tentang surat itu hanya cara bunda agar aku tidak merasa sedih akan kepergian ayah saat aku masih kecil. Tapi sekarang aku sudah besar. Aku masih sedih jika mengingat kepergian ayah, dan akan selalu merindukannya, tetapi aku sudah tahu bagaimana caraku untuk mengatasi kesedihanku tanpa surat-surat itu.
“Bunda, Khanza tidak akan menulis surat untuk ayah lagi.” Ujarku saat aku dan bunda duduk menghadap meja makan, ingin menyantap makan siang. Aku melihat kalender. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke sebelas.
“Kenapa, Nak?” Tanya bunda.
“Bunda, ayah kan tidak mungkin membacanya.”
Bunda tersenyum. “Iya, Nak. Memang ayah tidak bisa membacanya.”
“Lalu apa?” sergahku cepat. “Bunda mau bilang kalau Allah yang akan menyampaikannya? Bunda, Khanza sudah besar. Khanza tahu, saat itu Bunda cuma berbohong kan agar Khanza tidak sedih.”
Bunda menghela napas, “Bunda tidak bohong, Sayang.”
Bunda lalu tersenyum.
“Saat itu Bunda memang menyuruh Khanza menulis surat agar Khanza tidak sedih.” Lanjut bunda. Aku hanya diam saja mendengarkan.
“Tapi lebih dari itu Bunda ingin kamu menulis janji-janji kamu di surat itu agar kamu selalu termotivasi untuk selalu berbuat baik dan menjadi seperti apa yang kamu janjikan di surat itu. Nah, karena kamu berjanji akan selalu menjaga shalat, rajin mengaji dan belajar serta selalu berbuat baik, tentu kamu akan menepatinya kan, Nak? Doa kamu akan sampai kepada ayah karena doa anak yang shaleh/shaleha akan sampai kepada orang yang meninggal, begitu janji Allah, Nak. Itu yang Bunda maksud bahwa Allah yang akan menyampaikannya.” Bunda tersenyum lagi.
Aku tertegun, mencerna kata-kata bunda.
“Dan Bunda senang kamu selalu menepati janji-janji kamu persis seperti apa yang kamu tuliskan dalam surat-surat kamu.”
“Darimana Bunda tahu? Bunda baca surat-surat Khanza?” selama hampir 7 tahun setelah kepergian ayah aku benar-benar tidak pernah menanyakan apakah bunda pernah membaca suratku atau tidak.
“Iya, Sayang. Setiap tahun, bunda selalu membaca surat-surat yang kamu tulis, setelah kamu tidur. Maaf ya Nak, Bunda tidak bilang. Soalnya Bunda takut kamu malu, kamu kan banyak memuji Bunda di surat kamu.” Bunda tertawa, “Terus, kamu juga lebih banyak bercerita tentang si cowok pintar di sekolah kamu yang kamu kagumi itu di surat untuk ayah daripada sama Bunda, kan?” Bunda menggodaku.
“Ih, Bunda…” Aku kemudian memeluk bunda manja.
“Sekarang terserah Khanza mau nulis surat lagi atau tidak di setiap ulang tahun. Bunda yakin, tanpa surat itu pun, insya Allah, Khanza akan selalu jadi anak yang baik.”
Ucapan bunda membuatku terharu dan tanpa sadar menitikkan air mata. Aku kemudian mencium kening dan pipi Bunda. Terima kasih ya Allah, telah memberikan aku seorang Bunda yang hebat seperti dia.
Jam 00.01. Aku melirik jam dinding. Selamat Ulang Tahun, Khanza Sayyidina!
Aku mengambil selembar kertas binder, masih dengan karakter kesukaanku, Snow White. Aku menulis surat. Setelah selesai, aku melipatnya, memasukkannya ke dalam amplop, lalu kuletakkan di dalam laci meja belajarku. Lalu aku beranjak tidur.

Assalamualaikum, Ayah. Ayah hari ini Khanza berulang tahun yang ke-11. Khanza sudah besar kan, ayah? Ini surat Khanza yang ke-7 setelah kepergian ayah. Khanza tidak tahu setelah ini, apakah Khanza akan menulis surat lagi atau tidak. Tapi Ayah, insya Allah, Khanza tidak akan pernah lupa pada janji-janji Khanza untuk selalu menjadi anak yang baik dan selalu menyayangi bunda. Khanza janji, Khanza akan selalu bersemangat dalam menjalani hari-hari Khanza agar suatu saat Khanza bisa menggapai semua cita-cita Khanza.
Tidur yang tenang, Ayah. Khanza dan Bunda akan selalu menyayangi Ayah, dan Ayah akan selalu ada di hati kami.

Love,
Khanza

Dedicated to my father who passed away four years ago. Rest in peace, Dad. We love you, always.