image

Aku masih berumur empat tahun saat ayah pergi untuk selamanya, meninggalkan aku dan bunda. Saat itu aku menangis, tapi aku menangis karena kukira ayah sakit, dan aku merasa marah karena ayah hanya diam saja saat kuajak bicara, tidak menanggapi saat kuajak bermain. Lalu kulihat banyak orang berdatangan, keluargaku, tetangga-tetanggaku, dan entah siapa lagi. Aku melihat bunda menangis, begitupun semua orang yang datang. Ayah dibaringkan di tengah ruangan, dan orang-orang membaca surat Yasin. Bunda kemudian mengatakan padaku bahwa ayah telah meninggal.
“Ayah sudah meninggal, Nak. Ayah sudah dipanggil oleh Allah.” ucap bunda terisak sambil membelai rambutku.
Aku hanya diam saja. Aku belum sepenuhnya mengerti. Aku tahu bahwa seseorang yang meninggal itu adalah orang yang sudah pergi meninggalkan kita. Tetapi aku belum paham benar bentuk kepergian itu. Sampai jasad ayah dimasukkan ke liang lahat dan orang-orang menimbunnya dengan tanah, baru aku menangis sejadi-jadinya. Dan saat itu kulihat bunda tak sadarkan diri.
Sepeninggal ayah, bunda jatuh sakit. Tetapi kemudian bunda berusaha tegar demi aku. Beliau mencoba menjalani hidupnya kembali walaupun terasa berat. Mencoba menjalani peran barunya sebagai single-parent.
“Bunda, apa kita bisa bertemu dengan ayah lagi?” Tanyaku suatu hari.
“Bisa, Nak. Makanya Khanza rajin shalat, mengaji dan belajar ya, Nak. Berdoa buat ayah. Insya Allah, nanti kita dipertemukan dengan ayah lagi di syurga.” Bunda dengan sabar menjelaskan padaku.
Tetapi hari-hari berikutnya aku semakin merindukan ayah. Hari demi hari bunda dengan sabar membujukku, menyemangatiku untuk terus rajin shalat, mengaji, dan belajar. Saat itu aku sudah akan memasuki Sekolah Dasar, aku sudah lancar membaca dan menulis.
Aku menangis sesenggukan saat ulang tahunku yang kelima. Biasanya, ayah selalu menyiapkan kue ulang tahun kesukaanku, membelikan boneka cantik dan menyanyi untukku. Tapi di hari itu, ayah tidak ada. Kue ulang tahun sudah disiapkan bunda. Pun dengan pesta bertemakan Snow White yang semarak yang dihadiri oleh sanak saudara dan teman-temanku yang membawa banyak kado. Tapi, aku tetap tidak bisa tersenyum, karena aku sangat merindukan ayah. Bunda, yang seperti malaikat, selalu membujukku dengan sabar, tak pernah marah padaku.
Setelah semua tamu pulang, aku memeluk bunda.
“Bunda, Khanza sudah shalat, mengaji, dan belajar. Tapi Khanza sangat rindu ayah. Khanza ingin bertemu ayah.” Aku menangis.
Bunda menghapus air mataku dan menatapku tersenyum.
“Ini kan ulang tahun Khanza, Khanza tulis surat ya buat ayah ya.” Ucap bunda.
“Surat?” Keningku berkerut.
“Iya. Tulis semua yang ingin Khanza bilang ke ayah. Khanza tulis kalau Khanza merindukan ayah, ingin bermain bersama ayah lagi, dan berjanjilah pada ayah bahwa Khanza akan selalu jadi anak yang baik, bahwa Khanza akan mencapai semua cita-cita Khanza. Khanza tulis suratnya di setiap ulang tahun Khanza.” Jelas Bunda sambil membelai rambutku. Aku melihat matanya berkaca-kaca.
“Tapi ingat ya, janji-janji yang Khanza tulis di surat harus Khanza tepati.” Bunda menjawil hidungku.
“Tapi, Bunda, bagaimana ayah bisa membacanya?” Tanyaku penasaran.
“Allah yang akan menyampaikannya, Sayang.” Bunda tersenyum. Mataku berbinar, lalu memeluk bunda. Aku sangat menyayanginya.
Malamnya aku menulis surat. Aku menyobek selembar kertas dari salah satu buku tulisku yang berwarna-warni bergambar Snow White, karakter kartun kesukaanku. Aku menulis semua kerinduanku pada ayah. Bercerita tentang bunda hingga tentang teman-temanku di sekolah. Dan tak lupa, seperti yang bunda katakan, aku menulis janji-janjiku untuk setahun ke depan. Aku berjanji aku akan selalu rajin shalat dan mengaji. Akan selalu tekun belajar agar nilaiku selalu baik. Dan aku akan menuruti nasehat bunda, dan tidak melawan perkataanya. Aku kemudian memasukkan suratku ke dalam amplop kecil yang dibelikan bunda. Dan aku memasukkan surat itu ke dalam laci meja belajarku. Malamnya aku tidur dengan nyenyak, dan aku bermimpi bertemu dengan ayah. Ayah, bunda, dan aku bermain bersama di taman bunga yang sangat indah.
Sejak saat itu, setiap tahun tepat di hari ulang tahunku, aku selalu menulis surat untuk ayah. Tentang kerinduanku, bercerita tentang pengalaman-pengalamanku, hari-hari yang kulewati bersama bunda ataupun teman-temanku. Juga tentang janji-janji dan rencana-rencanaku di tahun lalu, yang mana yang yang berjalan baik, yang mana yang masih harus kuperbaiki. Dan tidak lupa, seperti biasa, aku menuliskan janji-janji dan rencana-rencanaku untuk tahun berikutnya.
Ya. Aku tahu bahwa surat itu tidak akan mungkin dibaca ayah. Dan seperti yang Bunda bilang, bahwa Allah yang akan menyampaikannya, aku tidak terlalu paham akan hal itu. Tapi satu hal yang pasti, aku dapat mengobati kerinduanku kepada ayah dengan menulis surat-surat itu.
Dan saat ini aku sudah duduk di kelas 1 SMP, aku tidak merasa perlu menulis surat-surat itu lagi. Aku pikir aku sudah cukup besar untuk mengerti bahwa tentang surat itu hanya cara bunda agar aku tidak merasa sedih akan kepergian ayah saat aku masih kecil. Tapi sekarang aku sudah besar. Aku masih sedih jika mengingat kepergian ayah, dan akan selalu merindukannya, tetapi aku sudah tahu bagaimana caraku untuk mengatasi kesedihanku tanpa surat-surat itu.
“Bunda, Khanza tidak akan menulis surat untuk ayah lagi.” Ujarku saat aku dan bunda duduk menghadap meja makan, ingin menyantap makan siang. Aku melihat kalender. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke sebelas.
“Kenapa, Nak?” Tanya bunda.
“Bunda, ayah kan tidak mungkin membacanya.”
Bunda tersenyum. “Iya, Nak. Memang ayah tidak bisa membacanya.”
“Lalu apa?” sergahku cepat. “Bunda mau bilang kalau Allah yang akan menyampaikannya? Bunda, Khanza sudah besar. Khanza tahu, saat itu Bunda cuma berbohong kan agar Khanza tidak sedih.”
Bunda menghela napas, “Bunda tidak bohong, Sayang.”
Bunda lalu tersenyum.
“Saat itu Bunda memang menyuruh Khanza menulis surat agar Khanza tidak sedih.” Lanjut bunda. Aku hanya diam saja mendengarkan.
“Tapi lebih dari itu Bunda ingin kamu menulis janji-janji kamu di surat itu agar kamu selalu termotivasi untuk selalu berbuat baik dan menjadi seperti apa yang kamu janjikan di surat itu. Nah, karena kamu berjanji akan selalu menjaga shalat, rajin mengaji dan belajar serta selalu berbuat baik, tentu kamu akan menepatinya kan, Nak? Doa kamu akan sampai kepada ayah karena doa anak yang shaleh/shaleha akan sampai kepada orang yang meninggal, begitu janji Allah, Nak. Itu yang Bunda maksud bahwa Allah yang akan menyampaikannya.” Bunda tersenyum lagi.
Aku tertegun, mencerna kata-kata bunda.
“Dan Bunda senang kamu selalu menepati janji-janji kamu persis seperti apa yang kamu tuliskan dalam surat-surat kamu.”
“Darimana Bunda tahu? Bunda baca surat-surat Khanza?” selama hampir 7 tahun setelah kepergian ayah aku benar-benar tidak pernah menanyakan apakah bunda pernah membaca suratku atau tidak.
“Iya, Sayang. Setiap tahun, bunda selalu membaca surat-surat yang kamu tulis, setelah kamu tidur. Maaf ya Nak, Bunda tidak bilang. Soalnya Bunda takut kamu malu, kamu kan banyak memuji Bunda di surat kamu.” Bunda tertawa, “Terus, kamu juga lebih banyak bercerita tentang si cowok pintar di sekolah kamu yang kamu kagumi itu di surat untuk ayah daripada sama Bunda, kan?” Bunda menggodaku.
“Ih, Bunda…” Aku kemudian memeluk bunda manja.
“Sekarang terserah Khanza mau nulis surat lagi atau tidak di setiap ulang tahun. Bunda yakin, tanpa surat itu pun, insya Allah, Khanza akan selalu jadi anak yang baik.”
Ucapan bunda membuatku terharu dan tanpa sadar menitikkan air mata. Aku kemudian mencium kening dan pipi Bunda. Terima kasih ya Allah, telah memberikan aku seorang Bunda yang hebat seperti dia.
Jam 00.01. Aku melirik jam dinding. Selamat Ulang Tahun, Khanza Sayyidina!
Aku mengambil selembar kertas binder, masih dengan karakter kesukaanku, Snow White. Aku menulis surat. Setelah selesai, aku melipatnya, memasukkannya ke dalam amplop, lalu kuletakkan di dalam laci meja belajarku. Lalu aku beranjak tidur.

Assalamualaikum, Ayah. Ayah hari ini Khanza berulang tahun yang ke-11. Khanza sudah besar kan, ayah? Ini surat Khanza yang ke-7 setelah kepergian ayah. Khanza tidak tahu setelah ini, apakah Khanza akan menulis surat lagi atau tidak. Tapi Ayah, insya Allah, Khanza tidak akan pernah lupa pada janji-janji Khanza untuk selalu menjadi anak yang baik dan selalu menyayangi bunda. Khanza janji, Khanza akan selalu bersemangat dalam menjalani hari-hari Khanza agar suatu saat Khanza bisa menggapai semua cita-cita Khanza.
Tidur yang tenang, Ayah. Khanza dan Bunda akan selalu menyayangi Ayah, dan Ayah akan selalu ada di hati kami.

Love,
Khanza

Dedicated to my father who passed away four years ago. Rest in peace, Dad. We love you, always.

Advertisements

One thought on “Surat Untuk Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s